);

Sejarah kerajaan Demak : Kehidupan politik, sosial, budaya, ekonomi & keruntuhan

Menurut catatan historiografi tradisonal, kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah. Saat Majapahit masih menjadi kerajaan yang kuat dan besar, Demak adalah salah satu kadipaten dibawah kekuasaan Majapahit. Setelah Majapahit mengalami kehancuran, Demak berubah menjadi kerajaan Islam pertama ditanah Jawa dengan ibukota di Bintaro. Letaknya yang strategis diantara Bergota (pelabuhan kerajaan Mataram wangsa Syailendra) dan Jepara, menempatkan Demak sebagai kerajaan yang penting di Nusantara.

Kehidupan Politik

  • Raden Patah (1475 – 1518)

Raden Patah pada tahun 1475 berhasil mendirikan Kerajaan Demak, yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa. Menurut Babad Tanah Jawa, Raden Patah adalah putra Brawijaya V (raja Majapahit terakhir) dengan putri Campa. Raden Patah semula diangkat menjadi bupati oleh kerajaan Majapahit di Bintaro Demak dengan gelar Sultan Alam Akbar al-Fatah.

Raden Patah lahir di Palembang pada 1455 M. Nama kecilnya Pangeran Jimbun. Selama 20 tahun, ia hidup di istana adipati Majapahit yang berkuasa di Palembang, yakni Arya Damar. Setelah beranjak dewasa, ia kembali ke Majapahit. Oleh orang tuanya, Patah dikirim kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel (Ngampel) Denta untuk belajar Islam. Ia mempelajari pendidikan Islam bersama murid-murid Sunan Ampel yang lainnya, seperti Raden Paku (Sunan Giri), Maulana Ibrahim (Sunan Bonang) dan Raden Qasim (Sunan Derajat).

Raden Patah dinikahkan dengan cucu Raden Rahmat, Nyi Ageng Maloka. Selanjutnya ia dipercaya untuk menyebarkan Islam di desa Bintaro dengan diiringi oleh Sultan Palembang, Aryadila, beserta 200 pasukannya. Oleh para wali, daerah ini telah direncanakan sebagai pusat dakwah Islam di Jawa. Lambat laun, Bintaro semakin ramai oleh para pendatang, baik yang ingin belajar Islam maupun yang berdagang.

Oleh para wali, Patah diangkat menjadi Sultan di Bintaro dengan gelar Sultan Alam Akbar al-Fatah, sebagai bawahan Majapahit, Bintaro pun berganti nama menjadi Demak. Para wali sepakat bahwa sudah saatnya Demak melepaskan diri dari Majapahit dan mengangkat Raden Patah menjadi Raja Demak pertama. Oleh Tomes Pires, ia ditulis sebagai Pate Rodin St.

Pelepasan kekuasaan ini ditandai dengan pemindahan pusaka Majapahit di Bintaro. Hal ini menegaskan bahwa Demak merupakan ahli waris Majapahit dan karenanya seluruh wilayah Majapahit menjadi hak milik Demak. Dalam menjalani roda pemerintahan, Raden Patah dibantu oleh Wali Sanga yang berperan sebagai penasihat.

Keberhasilan Raden Patah dalam memperluas wilayahnya dapat dilihat ketika Demak berhasil menaklukkan Girindrawardhana yang pada tahun 1478 berhasil merebut pusat Majapahit di Dayo (menurut Tomes Pires). Ia pun mampu menyerang benteng Portugis di Malaka. Ia mengutus anaknya yang bernama Muhammad Yunus (Dipati Unus) tahun 1512 guna menghantam benteng Portugis, namun gagal. Walaupun gagal, namun keberanian Dipati Unus menyerang Portugis menyebabkan ia dijuluki Pangeran Sebrang Lor yang berarti “Pangeran yang pernah menyeberang ke Utara.”

  • Sultan Trenggono (1521 – 1546)

Adipati Unus (1518 – 1521) menggantikan ayahnya (Raden Patah) untuk menjalankan roda pemerintahan. Ia lebih dikenal dengan nama Pangeran Sebrang Lor (gelar yang diterima sebab pernah mengadakan serangan ke utara / Malaka). Adipati Unus meninggal tanpa meninggalkan putra sehingga seharusnya digantikan oleh adiknya, Pangeran Sekar Seda Lepen. Akan tetapi, pengeran ini dibunuh oleh kemenakannya sehingga yang menggantikan takhta Demak adalah adik Adipati Unus yang lain, yakni Pangeran Trenggono. Ia setelah naik takhta Demak bergelar Sultan Trenggono.

Dibawah pemerintahannya, kerajaan Demak mencapai puncak kejayaannya. Wilayah kekuasaannya sangat luas, meliputi Jawa Barat (Banten, Jayakarta, dan Cirebon), Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur. Tindakan-tindakan penting yang pernah dilakukan Sultan Trenggono adalah sebagai berikut.

  • Menegakkan agama Islam
  • membendung perluasan daerah yang dilakukan oleh Portugis
  • menguasai dan mengislamkan Banten, Cirebon dan Sunda Kalapa (perluasan ke wilayah Jawa Barat ini dipimpin oleh Fatahilah yang kemudian menurunkan raja-raja Banten.
  • Berhasil menaklukkan Mataram, Singasari, dan Blambangan.

Kehidupan Sosial Budaya

Kehidupan kebudayaan banyak diwarnai oleh nilai-nilai agama Islam. Apalagi Demak merupakan pusat penyebaran dan pengembangan agama Islam dengan tokoh utama Wali Sanga. Masing-masing wali memiliki cara dan strategi sendiri-sendiri saat harus menyebarkan agama Islam dikalangan rakyat yang masih terpengaruh agama dan kebudayaan Hindu-Buddha. Media yang digunakan pun beraneka ragam, sehingga menghasilkan kebudayaan yang beragam pula. Para wali tidak canggung untuk menggunakan media wayang untuk kegiatan dakwah mereka.

Hasil budaya kerajaan Demak yang cukup terkenal dan sampai sekarang masih tetap berdiri adalah Masjid Demak. Masjid ini merupakan lambang kebesaran Demak sebagai kerajaan yang bercorak Islam. Masjid Demak selain kaya dengan ukiran-ukiran yang bercirikan Islam juga memiliki keistimewaan, karena salah satu tiangnya dibuat dari pecahan-pecahan kayu (tatal).

Selain Masjid Demak, Sunan Kalijaga Juga melakukan dasar-dasar perayaan Sekaten. Perayaan itu digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menarik minat masyarakat agar masuk Islam. Sekaten ini kemudian menjadi tradisi atau kebudayaan yang terus terpelihara sampai sekarang.

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, para wali menempati posisi paling penting. Didalam lingkungan keraton, para wali menjadi penasihat spiritual raja besarta keluarganya.

Sementara itu, tidak sedikit wali yang membuka pondok pesantren untuk mendidik santri dari berbagai daerah. Kuatnya pengaruh wali dalam kehidupan sosial masyarakat, menyebabkan tradisi peninggalan wali masih banyak yang diterapkan oleh sebagian besar kalangan rakyat Jawa.

Kehidupan ekonomi

Sebagai salah satu bandar pelabuhan di Nusantara, Demak memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan perekonomian antarpulau. Komoditas yang dipasarkan antara lain beras yang dihasilkan daerah-daerah pedalaman dan rempah-rempah dari Indonesia timur. Aktivitas perdagangan maritim itu menyebabkan kerajaan Demak mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Banyak kapal berlalu lalang dikawasan laut Jawa untuk memasarkan komoditasnya.

Keruntuhan kerajaan Demak

Sultan Trenggono gugur (1546) ketika berusaha menaklukkan Pasuruan. Wafatnya Sultan Trenggono memberi peluang kepada keturunan Pangeran Sekar Seda Lepen yang merasa berhak atas takhta kerajaan Demak untuk merebut takhta. Tokoh ini ialah Arya Penangsang yang menjadi bupati di Jipang (Blora). Keluarga Sultan Trenggono dengan tokohnya Pangeran Prawoto berusaha untuk menggantikan ayahnya sehingga terjadi perebutan kekuasaan.

Perang saudara ini berlangsung selama beberapa tahun yang akhirnya memunculkan Joko Tingkir, menantu Sultan Trenggono yang berasal dari Pajang, menaiki takhta sebagai raja dengan gelar Sultan Hadiwijoyo (1552-1575).

Sebelumnya Penangsang berhasil membunuh Pangeran Prawoto, ahli waris takhta sepeninggal Sultan Trenggono. Arya Penangsang sendiri tewas terbunuh Sutawijaya, Putera Ki Ageng Pemanahan. Setelah kemelut berakhir, Joko Tingkir memindahkan Pusaka Kerajaan dari Bintaro Demak ke Pajang yang menandai berakhirnya kerajaan Demak sekaligus awal dari Kerajaan Pajang.

Daftar Pustaka

Ismawati, Nursiwi. 2009. Sejarah Kelas XI Untuk SMA/MA Program Bahasa. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Listiyani, Dwi Ari. 2009. Sejarah Untuk SMA/MA Kelas XI Program IPS. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Wardaya. 2009. Cakrawala Sejarah Untuk SMA/MA Kelas XI (Program IPS). Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Suwito, Triyono. 2009. Sejarah Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI Program Studi IPS. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

You cannot copy content of this page