);

Kerajaan Mataram Kuno : Letak, kehidupan politik, ekonomi, sosial & budaya

Letak dan bukti sejarah

Kerajaan Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah dengan intinya sering disebut bumi Mataram. Daerah ini dikelilingi oleh gunung Sindoro, gunung Sumbing, gunung Merapi-Merbabu, gunung Lawu, dan pegunungan Sewu. Daerah ini juga dialiri oleh sungai Bogowonto, sungai Progo, sungai Elo, dan sungai Bengawan Solo. Itulah sebabnya daerah ini sangat subur.

Munculnya kerajaan Mataram diterangkan dalam Carita Parahyangan. Kisahnya adalah dahulu ada sebuah kerajaan di Jawa Barat bernama Galuh. Rajanya bernama Sanna (Sena). Suatu ketika, ia diserang oleh saudaranya yang menghendaki takhta. Raja Sanna meninggal dalam peristiwa tersebut, sementara saudara perempuannya, Sannaha, bersama keluarga raja yang lainnya berhasil melarikan diri ke lereng gunung merapi. Anak Sannaha, Sanjaya, di kemudian hari mendirikan kerajaan Mataram dengan ibukota Medang ri Poh Pitu. tepatnya pada tahun 717 M.

Bukti lain mengenai keberadaan kerajaan Mataram Hindu atau sering juga disebut Mataram Kuno adalah prasasti Canggal yang dikeluarkan oleh Sanjaya. Prasasti ini berangka tahun Cruti Indria Rasa atau 654 Saka (1 Saka sama dengan 78 Masehi, berarti 654 Saka sama dengan 732 M), hurufnya Pallawa, bahasanya Sanskerta dan letaknya digunung Wukir, sebelah selatan Wuntilan. Isinya adalah pada tahun tersebut Sanjaya mendirikan Lingga di Bukit Stirangga untuk keselamatan rakyatnya dan pemujaan terhadap Syiwa, Brahma, dan Wisnu, di daerah suci Kunjarakunja. Menurut para ahli sejarah, yang dimaksud bukit stirangga adalah gunung Wukir dan yang dimaksud Kunjarakunja adalah Sleman (kunjara = gajah = leman ; kunja = hutan). Lingga adalah simbol yang menggambarkan kekuasaan, kekuatan, pemerintahan, laki-laki dan dewa Syiwa.

Kehidupan politik

Berdasarkan prasasti Canggal diketahui, Mataram kuno mula-mula diperintah oleh Raja Sanna. Sanna kemudian digantikan oleh keponakannya, Sanjaya. Sanjaya adalah anak Sanaha, saudara perempuan Raja Sanna (Sanna tidak memiliki keturunan). Sanjaya memerintah dengan bijaksana sehingga rakyat hidup makmur, aman dan tenteram. Hal ini terlihat dari prasasti Canggal yang menyebutkan bahwa tanah Jawa kaya akan padi dan emas. Selain Prasasti Canggal, nama Sanjaya juga tercantum pada prasasti Balitung.

Setelah Sanjaya, Mataram diperintah oleh Panangkaran. Dari prasasti Balitung diketahui bahwa Panangkaran bergelar Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Raka i Panangkaran. Hal ini menunjukkan Raka i Panangkaran berasal dari keluarga Sanjaya dan juga keluarga Syailendra. Sepeninggal Panangkaran, Mataram kuno terpecah menjadi dua, Mataram bercorak Hindu dan Mataram bercorak Buddha. Wilayah Mataram-Hindu meliputi Jawa Tengah bagian utara, diperintah oleh dinasti Sanjaya dengan raja-raja seperti Panunggalan, Warak, Garung dan pikatan. Sementara wilayah Mataram-Buddha meliputi Jawa Tengah bagian selatan yang diperintah oleh dinasti Syailendra dengan rajanya antara lain Raja Indra.

Perpecahan di Mataram ini tidak berlangsung lama. Pada tahun 850, Raka i Pikatan dari Wangsa Sanjaya mengadakan perkawinan politik dengan Pramodhawardhani dari keluarga Syailendra. Melalui perkawinan ini, Mataram dapat dipersatukan kembali. Pada masa pemerintahan Pikatan-Pramodhawardhani, wilayah Mataram berkembang luas, meliputi Jawa Tengah dan Timur. Pikatan juga berhasil mendirikan Candi Plaosan.

Raja-raja wangsa Sanjaya, seperti dimuat dalam Prasasti Mantyasih (Kedu) sebagai berikut.

  1. Raka i Mataram Sang Ratu Sanjaya (717 – 746 M)
  2. Sri Maharaja Raka i Panangkaran (746 – 784 M)
  3. Sri Maharaja Raka i Panunggalan (784 – 803 M)
  4. Sri Maharaja Raka i Warak (803 – 827 M)
  5. Sri Maharaja Raka i Garung (828 – 847 M)
  6. Sri Maharaja Raka i Pikatan (847 – 855 M)
  7. Sri Maharaja Kayuwangi (855 – 885 M)
  8. Sri Maharaja Watuhumalang (894 – 898 M)
  9. Sri Maharatu Watukura Dyah Balitung (898 – 913 M)

Balitung digantikan oleh Sri Maharaja Daksa dan diteruskan oleh Sri Maharaja Tulodhong dan Sri Maharaja Wana. Namun ketiga raja ini sangat lemah sehingga berakhirlah kekuasaan dinasti Sanjaya.

Raja-raja dinasti Syailendra sebagai berikut.

  • Bhanu (752 – 775 M)
  • Wisnu (775 – 782 M)
  • Indra (782 812 M)
  • Samaratungga (812 – 832 M)

Samaratungga kemudian digantikan oleh Raka i Pikatan, suami dari Pramodhawardhani yang berasal dari wangsa Sanjaya. Kembalilah wangsa Sanjaya atas Mataram Kuno sepenuhnya.

Kehidupan Sosial Ekonomi

Kehidupan ekonomi masyarakat bertumpu pada pertanian. Kondisi alam bumi Mataram yang tertutup dari dunia luar sulit untuk mengembangkan aktivitas perekonomian dengan pesat. Pada masa Raja Balitung aktivitas perhubungan dan perdagangan dikembangkan lewat sungai Bengawan Solo. Pada prasasti Wonogiri (903) disebutkan bahwa desa-desa yang terletak di kanan-kiri sungai dibebaskan dari pajak dengan catatan harus menjamin kelancaran lalu lintas lewat sungai tersebut.

Kehidupan agama dan kebudayaan

Bumi Mataram diperintah oleh Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Dinasti Sanjaya beragama Hindu dengan pusat kekuasaannya di utara. Hasil budayanya berupa candi-candi, seperti Gedong Sanga dan kompleks candi Dieng. Kompleks candi ini antara lain, terdiri atas, Candi Bimo, Puntadewa, Arjuna dan Nakula.

Sebaliknya, Dinasti Syailendra beragama Buddha dengan pusat kekuasaannya di daerah selatan. Hasil budayanya seperti, Candi Borobudur, Mendut dan Pawon.


Keruntuhan kerajaan Mataram kuno

Setelah Balitung, pemerintahan dipegang berturut-turut oleh Daksa, Tulodong dan Wawa. Raja Wawa memerintah antara tahun 924-929 M. Ia kemudian digantikan oleh menantunya bernama Mpu Sindhok. Pada masa pemerintahan Mpu Sindhok inilah, pusat pemerintahan Mataram dipindahkan ke Jawa Timur. Hal ini disebabkan semakin besarnya pengaruh Sriwijaya yang diperintah oleh Balaputradewa. Selama abad ke-7 hingga ke-9 terjadi serangan-serangan dari Sriwijaya ke Mataram. Hal ini mengakibatkan Mataram semakin terdesak ke timur. Selain itu, bencana alam berupa letusan gunung Merapi merupakan salah satu penyebab kehancuran Mataram. Letusan gunung ini diyakini oleh masyarakat Mataram sebagai tanda kehancuran dunia. Oleh karena itu, mereka menganggap letak kerajaan di Jawa Tengah sudah tidak layak dan harus dipindahkan.

Mpu Sindhok kemudian mendirikan dinasti Isana. Ia memerintah hingga tahun 949. Pengganti Mpu Sindhok yang terkenal adalah Dharmawangsa yang memerintah 990 – 1016. Dharmawangsa pernah berusaha untuk mengalihkan pusat perdagangan dari Sriwijaya pada 990, akan tetapi mengalami kegagalan karena Sriwijaya gagal ditaklukkan.

Pada tahun 1016 Dharmawangsa dan keluarganya mengalami pralaya (kehancuran) akibat dari serangan Sriwiajaya yang bekerja sama dengan kerajaan kecil di Jawa yang dipimpin Wurawari. Akibat serangan ini kerajaan Dharmawangsa mengalami kehancuran. Menantu Dharmawangsa yang bernama Airlangga kemudian membangun kembali kerajaan, dan pada tahun 1019 ia dinobatkan sebagai raja. Keberhasilan Airlangga membangun kerajaan diabadikan dalam karya sastra Mpu Kanwa yaitu Arjuna Wiwaha. Pada 1041, Airlangga membagi dua kerajaan menjadi Janggala dan Panjula.

Daftar Pustaka

Suwito, Triyono. 2009. Sejarah Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Wardaya. 2009. Cakrawala Sejarah Untuk SMA/MA Kelas XI (Program IPS). Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Listiyani, Dwi Ari. 2009. Sejarah Untuk SMA/MA Kelas XI Program IPS. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

You cannot copy content of this page